Insipirasi Bisnis Dari Bang Daud
Namanya Bang Daud. Lebih dari setahun yang lalu, dia hanyalah seorang penjual kue rangi (dalam bahasa Jawa, namanya rangin, kue yang mirip dengan kue pancong, tapi dengan ukuran lebih kecil). Kini, dia membuka kios di sebuah pasar di wilayah Sentul. Seperti apa kisahnya ? mari saya ceritakan kisah Bang Daud yang sangat menginsipirasi bagi para calon pebisnis.
Kira-kira lebih dari setahun silam, bang Daud meninggalkan kampungnya menuju Jakarta. Menumpang di sebuah rumah petak dimana saudaranya mengontrak, Bang Daud mengadu nasib dengan berjualan kue rangi. Bang Daud juga masih punya kakak yang tinggal di dekat kontrakannya. Sang kakak yang bekerja pada sebuah perusahaan garmen, terkadang pulang membawa pekerjaan berupa jahitan gordyn atau jenis garmen lainnya. Terkadang di sela berjualan kue rangi, Bang Daud yang masih muda ini membantu kakaknya menjahit Gordyn. Ilmu menjahit sendiri didapatnya dari sang kakak.
Lama menjalankan usaha ini, Bang Daud mengambil langkah penting dalam sejarah hidupnya. Dia mengajak istri dan seorang anaknya yang masih kecil ke Jakarta. Sang istri pun membantunya dengan bekerja menjadi asisten rumah tangga di sebuah rumah yang tidak jauh dari kontrakannya. Mereka pun tidak lagi menumpang, namun menyewa sebuah rumah petak di dekat rumah sang kakak. Rumah petak yang disewanya itu kebetulan milik mertua saya.
Kehidupan keluarga Bang Daud tidak jauh dari 3 hal : Jualan kue rangi di pagi hari, Membantu sang kakak menjahit, dan istrinya bekerja jadi asisten. Setiap hari aktivitas ini tidak berubah. Sang istri bahkan sering berganti2 atasan, sampai pernah menjadi asisten rumah tangga di tempat mertua saya.
Hari demi hari berlanjut. Beberapa malam yang lalu, sang istri menemui ibu mertua saya, mengatakan bahwa mereka hendak berpamitan dan tidak lagi memperpanjang sewa kontrak rumah petak yang selama ini mereka sewa.
Apa yang terjadi ? ternyata mereka hendak pindah ke sentul. Sebab, disana bang Daud harus menjaga kios di pasar. Lho ? cerita pun mengalir dari mulut Teteh istri bang Daud. Selama mereka di Jakarta, Bang Daud rupanya tidak hanya berjualan kue rangi. namun kepandaiannya menjahit digunakan juga untuk menerima order jahitan dari luar. Kebanyakan order tersebut adalah jahitan gordyn. Lebih dari sekedar menjahit, bang Daud juga menjual jahitan gordyn hasil karyanya ke kios2 di pasar. Hampir tiap malam mesin jahit bang Daud yang didapatnya dari pinjam ke kakaknya berbunyi terus mengerjakan orderan. Tapi bukan berarti pekerjaan jualan kue rangi tidak dijalaninya lagi. Sang istri pun masih tetap bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Waktu pun memberikan jawaban atas kedisiplinan dan kerja keras keluarga Bang Daud. Hasil tabungan mereka digunakan untuk menyewa sebuah kios di pasar sentul, dan rencananya akan digunakan untuk menerima order jahitan dan sekaligus berjualan gordyn.
Sungguh saya dan keluarga terkejut mendengar cerita itu. Tak terbayangkan dulu saat pertama kali mereka datang dan menyewa rumah petak itu, kini mereka telah mengambil langkah penting dalam sejarah kehidupan mereka. Meskipun baru membuka kios, saya melihat hal itu sebagai sebuah kesuksesan mengambil anak tangga berikutnya dalam perjalanan hidup mereka.
Bukan tidak mungkin, dan saya percaya itu, bahwa jika mereka menerapkan langkah yang sama seperti yang pernah mereka lakukan, kesuksesan berikutnya akan datang lagi kepada mereka. Pelajaran yang saya dapat dari bang Daud : Sekecil apapun usahamu, jika dijalankan dengan disiplin, kesuksesan bukan sekedar mimpi.
Bang Daud telah memberi inspirasi buat saya. Bagaimana dengan anda ?



